Padukuhan Sleman : Antara Prasasti Salimar dan Alas Hing Liman

August 14, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Asal-usul Padukuhan Sleman, Kalurahan Triharjo memiliki beberapa versi. Versi yang pertama dikaitkan dengan nabi Sulaiman. Bapak Isnandar (68 tahun), mengungkapkan ada dua versi asal kata Sleman. Pertama ada kaitan dengan Nabi Sulaiman. Namun bapak Isnandar buru-buru menepis keterangan tersebut. Baik ruang dan waktu rentangnya sangat panjang. Nabi Sulaiman hidup jauh sebelum tahun Masehi, dan Sleman juga jauh dari permulaan tahun Masehi.

Cerita kedua dari bapak Isnandar, adalah bahwa di desa tersebut (yang sekarang bernama Sleman) pernah ada hutan yang dihuni oleh sekawanan gajah. Lidah orang Jawa menyebut sebagai “alas liman”. Alas berarti hutan, liman artinya gajah. Kebiasaan menyebut alas liman menjadi Sleman. Karangan ini sedikit mendekati logika. Sayangnya di Padukuhan Sleman sudah tidak diketemukan lagi bekas-bekas adanya hutan gajah. Namun adanya hutan gajah ini cukup logis. Kerajaan-kerajaan sepeti Yogyakarta dan Surakarta memelihara gajah. Gajah menjadi salah satu tumpangan raja.

Cerita ketiga dikaitakan dengan Aji Gaib Siluman/Suleman. Dari buku Babad Tanah Jawa, tulisan Dr.Purwadi, M.Hum, terbit tahun 2006, oleh Penerbit Panji Pustaka Yogyakarta, ada cerita tentang Prabu Angling Darma. Prabu Angling Darma memerintah di Negeri Mulwapati Daha. Raja ini sangat sakti dan bisa berbahasa dengan hewan dan segala benda yang mengeluarkan bunyi. Kesaktian ini ia mewarisi aji gaib Suleman, yang dimiliki oleh kakaknya Nagapratala. Aji Gaib Suleman hanya dimiliki oleh Nagapratala dan adiknya yaitu Prabu Angling Darma. Agak susah juga menghubungkan Aji Gaib Suleman dengan nama Sleman. Rentang waktu waktu yang tidak jelas. Demikian pula tentang tempat. Letak Kerajaan Mulwapati Daha memang ada di Jawa, tetapi dimana? Jika menilik adanya kata Daha, maka bisa diperkirakan Kerajaan Mulwapati Daha ini ada di Jawa Timur sekitar Kediri.

Cerita keempat dikaitkan dengan Kyai Ageng Datuk Sulaiman/Kyai Suleman Bekel Jamus. Menurut Sejarawan H Abdullah Tayeb dalam buku Sejarah Bima-Dana Mbojo, salah seorang keturunan Raja Bima kelak hijrah ke tanah Jawa dan dikenal dengan nama Kyai Ageng Datuk Sulaiman Bekel Jamus. Berdasarkan genealogi Kesultanan Yogyakarta, Kyai Ageng Sulaiman (Suleman) menikah dengan putri Madura bernama Ratu Kedhaton, dan memiliki putri bernama Roro Widuri atau dikenal sebagai Nyai Ageng Derpayuda. Salah seorang putri dari Nyai Ageng Derpayuda bernama Niken Lara Yuwati, kelak menjadi permaisuri Sultan Hamengku Buwono I dan dikenal dengan nama Ratu Ageng Tegalrejo. Ratu Ageng Tegalrejo merupakan buyut dari Pangeran Diponegoro, sekaligus menjadi pengasuh sang pangeran ketika masih kecil. Berdasarkan data situs akasara.com, Ratu Ageng Tegalrejo lahir pada tahun 1735, jika jarak usia dengan sang kakek Kyai Ageng Datuk Sulaiman adalah sekitar 50-60 tahun, maka diperkirakan Kyai Ageng Datuk Sulaiman lahir sekitar tahun 1675-1685.

Ada 4 versi asal-usul Sleman, namun hanya 2 versi yang mendekati data. Pertama di dukuh Sleman pernah ada hutan gajah, atau dalam Bahasa Jawa menjadi “Alas Liman” yang kemudian menjadi Sleman. Kedua adalah nama Kyai Ageng Datuk Sulaiman / Kyai Suleman Bekel Jamus. Nama ini lebih dekat dengan sejarah Keraton Yogyakarta.

Penulis: Gandung Sukaryadi
Tenaga Ahli Penulis: Suhindriyo
Foto: Gandung Sujaryadi