MURANGAN – TRIHARJO : KYAI MORANG DAN GERILYA DAKWAH

August 14, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Padukuhan Murangan, Triharjo, Sleman, Yogyakarta memiliki sejarah yang tidak terlepas dari pergerakan perang gerilya Pangeran Diponegoro. Banyak bermunculan tokoh-tokoh agama yang alim dan mempunyai kemampuan spiritual tinggi. Mereka membantu Pangeran Diponegoro dalam berjuang melawan penjajah.

Salah satu tokoh alim tersebut bernama Raden Ahmad Abdul Fatah yang merupakan keturunan kedua dari Sultan Hamengku Buwono II dari seorang garwa ampeyan atau selir. Beliau bersama kedua adiknya yaitu Raden Muhamad dan Raden Narulloh merupakan murid/santri dari Simbah Kyai Hasantuko yang berasal dari Desa Senuko, Godean dan juga sekaligus murid/santri dari Kyai Taftajani selepas menempuh gemblengan keagamaan di pondok pesantren Mlangi.

Ketiga bersaudara ini lantas berdakwah menyebarkan agama Islam sambil terus berperang gerilya. Terkhusus Raden Ahmad Abdul Fatah yang didampingi istrinya Raden Ajeng Dumilah memilih berdakwah di daerah Murangan. Cara beliau berdakwah yang lembut dan santun membuat banyak warga yang mayoritas beragama Hindu itu pun tergerak untuk memeluk agama Islam.

Menurut Adnan Januar selaku kepala dukuh Murangan VIII, Raden Ahmad Abdul Fatah ini memiliki amalan kebaikan yang diwariskan kepada anak keturunannya yaitu wirid dan puasa mutih.

Penyebaran agama Islam yang cukup pesat itu menjadikan Raden Ahmad Abdul Fatah di kemudian hari dikenal dengan sebutan Kyai Morang, sesuai dengan nama daerah tempat beliau berkarya, menetap bersama anak keturunannya sampai akhir hayat.

Penulis            : Genoveva Dian Uning
Tenaga Ahli     : Budi Sardjono